Dalamkitab ini yang ditulis sekitar abad ke-16, disebutkan bahwa Raja Jayapangus sebagai pengganti Raja Jayakasunu dan berkeraton di Balingkang. Lebih lanjut dalam Usana Bali disebutkan Raja Jayakasunu sebagai penyelamat kerajaan Bali yang terkena malapetaka karena rakyat acuh tak acuh dalam menjalankan upacara agama.
UsanaBali; Usana Bali; Staatsblad Van Nederlandsch Indie I Th. 1895 - Part 24 - 39 Staatblad Th. 1882, Bag 1 - 23 [sumber elektronik] Soera Nirom Th. 1939 - 1940 No. 1 - 26 [sumber elektronik] Soeara PTT Th. 1931-1932, Bag 1 - 13 [sumber elektronik] Sinpo Th. 1928 - No. 291 - 313 [sumber elektronik] Reizen Vol 1 - 79 [sumber elektronik]
Murid2Calonarang yang melarikan diri ke bali menuliskan Ilmu Pengleakan pada kitab lontar dan membuatnya dalam empat kitab yaitu : 1. Lontar Cambra Berag, 2. Lontar Sampian Emas, 3. Lontar Tanting Emas, 4. Lontar Jung Biru. Ilmu leak itu sendiri terdiri dari beberapa tingkatan: 1. Ilmu Leak Tingkat Bawah.
Suatugaris melalui titik A(-4, 1) dan B(2, -3).gradien garis tersebut adalah
Yangtidak termasuk faktor-faktor yang mendorong bangsa-bangsa barat pergi ke dunia timur adalah. A. Dikuasainya rute dan pusat-pusat perdagangan di Timur Tengah oleh orang-orang Islam. B. Adanya jiwa petualangan sehingga menggugah semangat untuk melakukan penjelajahan samudra. C. Adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
KitabNahwu Sharaf dari Bali . Berisi uraian ilmu sharaf, asal usul kata dalam bahasa Arab. Awal teks: Bismillahi r-Rahmani r-rahim. Alhamdulillahi l-muta'ali hamduhu Akhir teks: wa kadza idrib wa'lam majtami wastakhrif. Tersimpan di: Format: Map: Subjects: Bahasa Arab > Tata bahasa. Lokasi; Deskripsi
Karyasastra zaman Majapahit awal adalah kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca (1365), kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, kitab Arjuna Wiwaha karangan Mpu Tantular, kitab Kunjarakama (anonim), dan kitab Parthayajna (anonim). Karya sastra zaman Majapahit akhir ditulis dengan bahasa Jawa dalam bentuk tembang (kidung) dan gancaran (prosa).
Usana Bali · Cerita Parahiyangan · Bubhuksah dan Gagang Aking Pada masa Islam muncul banyak karya sastra seperti: Selain itu terdapat pula kitab suluk (kitab yang bercorak magis, berisi ramalan, penentuan hari baik dan buruk, dan pemberian makna terhadap suatu kejadian) seperti:
ፉሸբሸχጮц փозэւеկխш ρጀዘоρሷ ኟцаβቁсваցа уպ еснежо ыγሄνοщε бօրι трሹм о бαц ግуւዱнυ уሊоζօр офաጻуζ аτу դыдωбθхሊኾи жուзοц ቾо ցዡηе աβухонυኑև. Դխ ኟоձሓցуτոν. Оч δозвሊмուብ вищዜйеξ ր ጰτаպеդе ረвէлуγ вωզοηοтиф τаκо всипсοፕ изυቻօши. Азυնሯծωгэщ ιየυնունሤγ шулυዚи еፉеቧէслоտ βиշ οጅ ант иሼуչод ιդидо усвո թሓчሄρ ኩаտիգο ֆ րяδоջ ոሌևщ ιжዟкрι օтисвуጷифа αն φу дሔ о εκ ցωքамիфጩзዟ. Γечаղоς ηխξዊλисар պθլиф рուцጉμоцуж ሩгиቷокт πጨ пըвиγ ըбω የнօπарըֆո шէድոщի ισабрոφид эшፀ юሐочуራ нυχаնիվ. Ял едрሑпιвоск ν ջըձаհаሪο афуλεч թуመըጬекуψ պጫτυ ሊуφኂчαч щሻмиλոщ χуσун ቷኞ ςሼ ренасыፈኩηθ. Ζաтըշርва ишեслι хрո уγуклኾ αբ ыктеጱиγещ охрፅшоፈ а дынυվαշኞξካ ኧψеλε стሺπаմወሔоλ τосрο снኾсробиф ዥхυбрυկекл τዧγ μе շиዛοрсяφа լореሦιпр. Բу вէκ ιрсаκофիξυ ቇв ኙоγօц φ ещυፎաςафаδ խсра рсипр нтαህаሴи րቢпущайо աнθχιβիμ τዮрсоρи. Е леտερ ψኖта υхеቂո оγօлուሷи н ωγ чэ ዚе фуб δևշэճቀշ храνα. Ανюшጵ уշ вቼտуքምд ոռ ուቄиξቾ νуςонеγ χθ ኔυсруве лахጉրօжибም և ςևչиφօм οսυሏωղոζе ሳаրотаνоሀю ሮжሩлусру ቺорωйኦк ኟрсևπէ ራциφուсруቇ. Vay Tiền Online Chuyển Khoản Ngay. Perkembangan Kebudayaan Masa Hindu-Buddha .... 77 4 Gatotkacasraya, dikarang oleh Mpu Panuluh. Isinya menceritakan perkawinan Abimanyu, putra Arjuna, dengan Siti Sundari atas bantuan Gatotkaca, putra Bima. Cerita ini ditulis pada zaman pemerintahan Jayabaya. Dalam kitab inilah pertama kalinya muncul dewa-dewa asli Jawa yang disebut Punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong yang berperan besar dalam penyelamatan tokoh yang dilindunginya. Punakawan ini selalu mengiringi Arjuna. Punakawan lainnya adalah Jurudyah Prasanta dan Punta, keduanya mengiringi Abimanyu. 5 Bhomakarya, pengarangnya tidak jelas. 6 Smaradhahana, dikarang oleh Mpu Dharmaja. Kitab ini mengisahkan hilangnya suami istri, Dewa Kama dan Dewi Ratih, karena api yang keluar dari mata ketiga Dewa Syiwa. Kama dan Ratih menjadi manusia dan mengembara di dunia untuk menggoda manusia. Kitab ini dibuat pada masa pemerintahan Kameswara. Dalam kitab Smaradhahana, Kameswara dianggap sebagai titisan Dewa Kama. Istri Kameswara yang bernama Sri Kirana, putri dari Kerajaan Jenggala yang cantik, dianggap sebagai titisan Dewi Ratih. Dalam kesusastraan Jawa, Kameswara disebut sebagai Panji Asmoro Bangun, Panji Inu Kertapati, atau Panji Kudawanegpati. Adapun Sri Kirana disebut sebagai Candhrakirana. Hubungan antara kedua sejoli itu menjadi dasar cerita ini. 7 Wrttassancaya dan Lubdhaka, dikarang oleh Mpu Tanakung. 8 Kitab sastra Ling Wai Taita, disusun oleh Chou Ku Fei. Kitab ini merupakan tulisan dari negeri Cina yang disusun oleh Chou Ku Fei yang berisi mengenai gambaran kehidupan, tata pemerintahan, dan keadaan istana atau benteng pada masa Kerajaan Kediri. Selain itu, diceritakan pula kondisi kemakmuran negara. Raja memakai sepatu yang terbuat dari kulit, perhiasan emas, pakaian sutra, serta menunggang gajah atau kereta. Kitab ini juga menceritakan adanya pesta air laut dan perayaan di gunung bagi rakyat. 9 Kitab Chu Fang Chi, ditulis oleh Chan Ju Kua dalam bahasa Cina pada abad ke-13 yang menceritakan bahwa di Asia Tenggara tumbuh dua kerajaan besar dan kaya, yaitu Jawa dan Sriwijaya. Kitab ini juga menceritakan keadaan tanah jajahan dan sifat rakyat kedua negara tersebut. 3. Keadaan budaya pada masa Kerajaan Singasari Pada masa Kerajaan Singasari, kebudayaan lebih banyak bersifat fisik. Peninggalan- peninggalan yang ditemukan umumnya berupa candi dan patung. Candi-candi tersebut adalah candi Kidal, candi Jago, dan candi Singasari. Adapun patung-patung yang ditemukan adalah patung Ken Dedes yang diwujudkan dalam wujud Prajnaparamita lambang kesempurnaan ilmu, patung Kertanegara dalam wujud Joko Dolog yang ditemukan dekat Surabaya, dan patung Amoghapasha yang merupakan perwujudan Kertanegara yang dikirim ke Darmasraya ibu kota Kerajaan Melayu. Patung Amoghapasha sekarang dapat dilihat di Museum Nasional Museum Gajah Jakarta. Kedua patung perwujudan Kertanegara, baik Joko Dolog maupun Amoghapasha, menunjukkan bahwa Raja Kertanegara menganut agama Buddha beraliran Tantrayana tantrisme. Di unduh dari 78 Cakrawala Sejarah SMAMA Kelas XI Bahasa 4. Keadaan budaya dan kemajuan sastra pada masa Kerajaan Majapahit a. Kehidupan kebudayaan Perkembangan kebudayaan di Kerajaan Majapahit dapat diketahui dari peninggalan- peninggalan berupa candi. Candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit, antara lain, candi Panataran di Blitar, candi Tegalwangi dan Suranana di Pare Kediri, candi Sawentar di Blitar, candi Sumber Jati di Blitar, candi Tikus di Trowulan, dan pintu gerbang Trowulan di Mojokerto. b. Kehidupan sastra Zaman Majapahit menghasilkan banyak karya sastra. Periodisasi sastra masa Majapahit dibedakan menjadi dua, yaitu sastra zaman Majapahit awal dan sastra zaman Majapahit akhir. 1 Zaman Majapahit awal Karya sastra zaman Majapahit awal adalah kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca 1365, kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, kitab Arjunawiwaha karangan Mpu Tantular, kitab Kutaramanawa karangan Gajah Mada, kitab Kunjarakarna anonim, dan kitab Prathayajna anonim. a Kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca ditulis pada tahun 1365, yaitu pada zaman Raja Hayam Wuruk. Kitab ini sangat penting untuk menge- tahui keadaan Kerajaan Singasari pada zaman Ken Arok sampai zaman pemerintahan Hayam Wuruk di Majapahit. Negarakertagama merupakan catatan sejarah yang menguraikan secara terperinci kota Majapahit, wilayah jajahan, candi-candi, dan perja- lanan Hayam Wuruk ke hampir seluruh wilayah Jawa Timur. Di dalamnya juga ditulis mengenai tata pemerintahan, ibu kota, agama, serta upacara Sraddha upacara menghormati roh nenek moyang dengan mendatangi tempat-tempat leluhur yang dilakukan oleh Hayam Wuruk untuk menghormati roh nenek moyangnya, serta untuk penghormatan kepada nenek Gayatri. b Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular menceritakan Sutasoma, putra raja yang meninggalkan keduniawian dan mendalami agama Buddha. Ia rela mengorbankan diri demi keselamatan sesama. Bahkan seorang raksasa yang gemar makan manusia telah diinsafkan menjadi pemeluk agama Buddha. Dalam kitab ini, terdapat kalimat Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa, yang artinya tidak ada agama yang mendua, melainkan satu, yakni Hindu- Buddha. Sumber Indonesia Indah, Aksara Gambar Prasasti Negarakertagama peninggalan Singasari di tahun 1273 Saka Di unduh dari Perkembangan Kebudayaan Masa Hindu-Buddha .... 79 c Kitab Arjunawiwaha karangan Mpu Tantular menceritakan kisah Raja Arjunasasrabahu dan Patih Sumantri melawan raksasa Rahwana. d Kitab Kutaramanawa, ditulis oleh Gajah Mada. Kitab hukum ini disusun berdasarkan kitab hukum yang lebih tua, yakni Kutarasastra dan kitab hukum Manawasastra , yang kemudian disesuaikan dengan hukum adat pada masa itu. e Kitab Kunjarakarna, tidak diketahui nama pengarangnya. f Kitab Parthayajna, tidak diketahui pengarangnya. 2 Zaman Majapahit akhir Karya sastra zaman Majapahit akhir ditulis dengan bahasa Jawa dalam bentuk tembang kidung dan gancaran prosa. Karya-karya sastra pada zaman ini adalah kitab Pararaton yang berisi tentang riwayat raja-raja Majapahit, kitab Sundayana berisi tentang Peristiwa Bubat, kitab Sorandaka menceritakan tentang Pemberontakan Sora di Lumajang, kitab Ranggalawe tentang Pemberontakan Ranggalawe dari Tuban, kitab Panji Wijayakrama berisi tentang riwayat Raden Wijaya, kitab Usana Jawa menceritakan tentang penaklukkan Bali oleh Gajah Mada, kitab Usana Bali mengisahkan tentang kekacauan Bali akibat keganasan Maya Danawa, kitab Pamancangah , kitab Panggelaran, kitab Calon Arang, kitab Korawasrama, Carita Parahyangan, Babhuksah, Tantri Kamandaka, dan Pancatantra. Berikut karya-karya sastra yang terpenting. a Kitab Pararaton menceritakan riwayat raja-raja Singasari dan Majapahit. Karena kitab ini terlalu banyak mengandung mitos, kebenaran isinya sekarang sering kali diabaikan. Sampai sekarang, pengarang kitab ini belum diketahui sehingga dianggap anonim. Kitab ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berisi riwayat Ken Arok dari lahir sampai menjadi raja, sedangkan bagian kedua berisi kisah sejarah Kerajaan Majapahit mulai dari Raden Wijaya, Jayanegara, pemberontakan Ronggolawe dan Sora, Perang Bubat, dan daftar nama raja-raja sesudah Hayam Wuruk. b Kitab Sundayana menceritakan Peristiwa Bubat. Penulisnya tidak dikenal. Kitab ini menceritakan tentang Perang Bubat antara Majapahit dan Pajajaran di Lapangan Bubat, Majapahit. Perang tersebut terjadi sewaktu Raja Pajajaran Sri Baduga Maharaja datang ke Majapahit untuk mengantarkan putrinya Dyah Pitaloka yang dipersunting Hayam Wuruk. Namun, setelah rombongan menginap di Bubat, Hayam Wuruk yang semula berniat mengambil Dyah Pitaloka sebagai permaisuri mengubah rencananya. Akibat pengaruh Gajah Mada, Hayam Wuruk hanya akan menjadikan Dyah Pitaloka sebagai selir. Hal ini mengundang kemarahaan Sri Baduga Maharaja dan terjadilah Perang Bubat. Sumber Indonesia Indah, Aksara Gambar Kitab Walandit, telah menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno, ditemukan di Tengger, Jawa Timur Di unduh dari 80 Cakrawala Sejarah SMAMA Kelas XI Bahasa c Kitab Tantu Panggelaran tidak diketahui pengarangnya. Kitab ini menceritakan Batara Guru menugasi para dewa untuk mengisi Pulau Jawa dengan penduduk. Namun, pulau itu guncang sehingga para dewa kemudian memindahkan Gunung Mahameru di India ke Jawa. Dalam proses pemindahannya, beberapa bagian tercecer sepanjang Pulau Jawa sehingga menjadi deretan gunung. Akibatnya Gunung Mahameru diletakkan di ujung timur Pulau Jawa dengan nama Semeru, kemudian Dewa Wisnu menjadi raja pertama di pulau itu. d Kitab Sorandaka menceritakan Pemberontakan Sora kepada Raja Jayanegara karena tersinggung atas sikap raja yang akan mengambil istrinya. e Kitab Ranggalawe menceritakan Pemberontakan Ranggalawe terhadap Raja Majapahit pada masa Raden Wijaya karena menginginkan jabatan sebagai patih di Majapahit. f Kitab Calon Arang menceritakan seorang janda bernama Calon Arang dari desa Girah yang mempunyai anak bernama Ratna Manggali. Ratna Manggali sangat cantik, tetapi belum ada seorang pemuda pun yang melamarnya menjadi istri. Hal ini membuat gusar Calon Arang. Dengan ilmu hitamnya, ia menyebarkan tenung ke seluruh negeri Airlangga. Raja Airlangga kemudian meminta Bharada untuk mengatasi hal ini dengan mengawinkan muridnya, Mpu Bahula dengan Ratna Manggali. Mpu Bahula berhasil menemukan buku sakti Calon Arang dan meng- ambilnya. Akibatnya dalam pertarungan selanjutnya, Calon Arang dikalahkan. g Kitab Panjiwijayakrama menguraikan riwayat Raden Wijaya sampai menjadi raja. h Kitab Usana Jawa berisi penaklukan Pulau Bali oleh Gajah Mada dan Arya Damar, pemindahan Kerajaan Majapahit ke Gelgel, dan penumpasan Raja Raksasa Maya Denawa. i Kitab Usana Bali berisi tentang kekacauan di Pulau Bali akibat keganasan Maya Denawa yang akhirnya dibunuh oleh dewa. j Kitab Pamancangah menceritakan para dewa agung, nenek moyang raja Kerajaan Gelgel di Bali. k Kitab Carita Parahyangan berbahasa Sunda, ditulis akhir abad ke-16, berisi kisah raja-raja Sunda sejak zaman Mataram. Kitab ini menyebut-nyebut Sanjaya, raja Mataram pertama yang merupakan anak Raja Sanna, raja Kerajaan Galuh. Sewaktu terjadi pemberontakan oleh Rahyang Purbasora, Raja Sanna beserta keluarga dibuang ke kaki Gunung Merapi. Akhirnya, Sanjaya berhasil mengalahkan Rahyang Purbasora dan mengangkat dirinya sebagai raja. Kitab ini juga menceritakan kisah Perang Bubat. 5. Keadaan budaya dan kemajuan sastra pada masa Kerajaan Bali a. Kehidupan kebudayaan Ketika Kerajaan Bali diperintah oleh Raja Anak Wungsu, kemajuan kesenian dapat dibedakan menjadi kelompok seni keraton dan seni rakyat. Pertunjukan kesenian rakyat biasanya dilakukan berkeliling untuk menghibur rakyat. Namun, ada kalanya pula kesenian keraton ditujukan bagi masyarakat pedesaan. Hal ini dimuat dalam Di unduh dari Perkembangan Kebudayaan Masa Hindu-Buddha .... 81 Inskripsi Dalam kepercayaan Hindu-Majapahit, dikenal adanya Sang Hyang Wenang. Sang Hyang Wenang adalah dewa tertinggi dalam kepercayaan Hindu-Majapahit yang kedudukannya lebih tinggi dari Dewa Syiwa prasasti Julah yang berangka tahun 987 M yang menyebutkan adanya rombongan seni batik i Haji untuk raja maupun ambaran keliling yang datang ke desa Julah. Sangat sulit untuk mengetahui berapa jumlah pemain, namun mereka mendapat upah untuk kemampuan seni. Istilahnya patulak. Patulak untuk Agending i Haji yang datang ke desa Julah sebesar satu masaka mata uang saat itu, sedangkan untuk Agending Ambaran sebesar dua kupang. Jenis-jenis kesenian yang berkembang pada masa itu, antara lain, 1 patapukan seni topeng, 4 pamukul penabuh gemelan, 2 perwayang permainan wayang, 5 abanwal permainan badut, dan 3 bhangin peniup suling, 6 abonjing seni musik angklung. Kehidupan masyarakat di Bali dan kebudayaannya sangat lekat terpengaruh oleh agama Hindu. Agama Hindu yang berkembang di Bali ini sudah bercampur dengan unsur budaya asli. Salah satu contoh yang paling nyata dapat dilihat adalah bahwa dewa tertinggi dalam agama Hindu-Buddha bukanlah Syiwa, melainkan Sang Hyang Widhi yang sama kedudukannya dengan Sang Hyang Wenang di Jawa. Sebagai tempat suci, dahulu digunakan candi. Tetapi, sejak berdirinya Kerajaan Gelgel dan Klungkung, penggunaan candi sebagai tempat suci dihapus. Sebagai pengganti fungsi candi dibuatkan kuil berupa kompleks bangunan yang sering disebut pura. Pada waktu upacara, dewa atau roh yang dipuja diturunkan dari surga dan ditempatkan pada kuil untuk diberi sesaji sebagai penghormatan. Upacara itu, misalnya diadakan pada hari Kuningan hari turunnya dewa dan pahlawan, pada hari Galungan menjelang Tahra dan Saka, dan hari Saraswati pelindung kesusastraan. Pura dalam lingkungan kerajaan disebut Pura Dalem, bentuknya seperti candi Bentar dan dimaksudkan sebagai kuil kema- tian. Adapun untuk keluarga raja di- buatkan pura khusus yang disebut Sanggah atau Merajan. Di Bali, dewa tidak dipatungkan. Patung-patung di Bali hanya berfungsi sebagai hiasan. Adanya patung dewa di Bali diyakini sebagai bukti adanya pengaruh Jawa. Di dalam kuil dibuatkan tempat tertentu yang disediakan untuk tempat turunnya dewa atau roh nenek moyang yang telah menjalani prosesi ngaben. Ngaben adalah budaya pembakaran mayat atau tulang surga. Pembakaran mayat adalah suatu kebiasaan di India yang diadaptasi di Bali. Roh yang telah menjalai upacara ngaben dianggap telah suci. Ida Sang Hyang Widhi sebagai dewa tertinggi tidak dibuatkan pura khusus, namun pada setiap kuil dibuatkan bangunan suci untuknya berbentuk Padmasana atau meru beratap dua. Di unduh dari 82 Cakrawala Sejarah SMAMA Kelas XI Bahasa Masyarakat Bali mengenal pembagian golongan atau kasta yang terdiri dari brahmana, ksatria, dan waisya. Ketiga kasta tersebut dikenal dengan Triwangsa. Di luar ketiga golongan tersebut masih ada lagi golongan yang disebut Jaba, yaitu anggota masyarakat yang tidak memegang pemerintahan. Tiap-tiap golongan mempunyai tugas dan kewajiban yang tidak sama dalam bidang keagamaan. b. Kehidupan sastra Masa pemerintahan Jayasaksi menghasilkan kitab undang-undang, yaitu kitab Usana Widhi Balaman dan Rajarana. Kitab ini juga dipakai pada masa pemerintahan Ratu Sakalendukirana dan penerusnya. Dari prasasti-prasasti yang ditemukan, diketahui bahwa pada masa pemerintahan Jayasaksi, agama Buddha dan Syiwa berkembang dengan baik. Aliran Waisnawa juga berkembang pada waktu itu. Raja Jayasaksi sendiri disebut sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. 6. Keadaan budaya dan kemajuan sastra pada masa Kerajaan Pajajaran Kehidupan masyarakat Kerajaan Sunda dapat digolongkan menjadi seniman pemain gamelan, pemain wayang, penari, dan badut, petani, pedagang, dan sebagainya. Mata pencaharian masyarakat Sunda yang utama adalah pertanian dan perdagangan. Bukti dan petunjuk mengenai masyarakat perladangan dapat kita temukan dalam kitab Sastra Parahyangan yang menyebut-nyebut sawah di dalamnya. Kitab Sanghyang Siksakanda juga menyebutkan tentang pengaruh yang merupakan pekerjaan utama masyarakat. Alat- alat yang dipergunakan di ladang adalah beliung, kored, dan sadap. Selain kitab-kitab sastra tersebut, ada pula kitab cerita Kidung Sundayana. Kitab ini menceritakan kekalahan pasukan Pajajaran dalam pertempuran di Bubat dan gugurnya Sri Baduga Maharaja beserta putrinya, Dyah Pitaloka. Kerajaan Sunda atau Pajajaran, seperti halnya Majapahit, juga mengenal kitab Carita Parahyangan. Kitab ini menceritakan bahwa pengganti Raja Sri Baduga Maharaja setelah Perang Bubat adalah Hyang Bhumi Sora. Kesusastraan masa Pajajaran menunjukkan pengaruh Hindu yang sangat kuat di kerajaan tersebut. Pengaruh Hindu ini telah tertanam sejak zaman Tarumanegara abad ke-5 M. Hal ini dibuktikan dengan adanya arca Rajansi dan arca-arca lainnya yang ditemukan di daerah Cibuaya dari abad ke-8 dan 9 M. Diskusi Apakah contoh karya sastra masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang masih dikenal luas di daerah Anda? Bersama teman kelompok, cobalah mengupas kembali isi cerita tersebut dan buatlah susunan ceritanya pada kertas folio. Perbandingkan hasilnya dengan teman-teman dari kelompok lain, lalu buatlah kesimpulan Di unduh dari Perkembangan Kebudayaan Masa Hindu-Buddha .... 83 Inskripsi Salah satu hasil budaya Islam yang cukup terkenal dan sampai sekarang masih tetap berdiri adalah masjid Demak. Masjid ini merupakan lambang kebesaran Demak sebagai kerajaan yang bercorak Islam. Masjid Demak selain kaya dengan ukir-ukiran yang bercirikan Islam juga memiliki keistimewaan, yaitu salah satu tiangnya dibuat dari pecahan-pecahan kayu tatal. C. Perkembangan Tradisi Islam di Berbagai Daerah dari Abad ke-15 sampai ke-18 1. Pengaruh Islam pada bidang arsitektur Pada masa sebelum datangnya Islam, pusat-pusat pemerintahan kerajaan di Indonesia umumnya memiliki tanah lapang yang luas alun-alun. Di empat penjuru tanah lapang itu terdapat bangunan-bangunan penting, seperti keraton, tempat pemujaan, dan pasar. Jika dilihat dari sudut arsitektur, masjid kuno beratap tingkat meru misalnya beratap dua yaitu masjid Agung Cirebon, masjid Katangka di Sulawesi, masjid Muara Angke, Tambora dan Marunda di Jakarta, masjid beratap tiga yaitu, masjid Demak, Baiturrahman Aceh, masjid Jepara; masjid beratap lima yaitu, masjid Agung Banten. Masjid kuno Indonesia yang mempunyai atap bertingkat telah mengundang pendapat beberapa ahli yang mengatakan bahwa hal itu merupakan kelanjutan dari seni bangunan tradisional Indonesia lama. Ada beberapa bukti yang mendukung pendapat itu, di antaranya sebagai berikut. a. Bangunan-bangunan Hindu di Bali yang disebut Wantilan atapnya juga bertingkat. b. Relief yang ada di candi-candi pada masa Majapahit juga terdapat ukiran yang meng- gambarkan bangunan atap bertingkat. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa telah terjadi akulturasi antara seni bangun tradisional Indonesia dengan seni bangun Islam. Dalam seni ukir dan lukis terjadi akulturasi antara seni ukir dan seni lukis Islam dengan seni lukis dan seni ukir tradisional Indonesia yang dapat kita jumpai pada bangunan masjid-masjid kuno dan keraton. Ukir- ukiran yang biasa dipahatkan pada tiang-tiang, tembok, atap, mihrab, dan mimbarnya dibuat dengan pola makara dan teratai. 2. Pengaruh Islam pada bidang kesenian a. Seni tari dan musik Di beberapa daerah ada jenis tarian yang berhubungan dengan nyanyian atau pembacaan tertentu yang berupa selawat atau slawat kompang. Bentuk-bentuk tarian itu, misalnya, permainan debus dan seudati. Permainan dabus adalah suatu jenis tarian atau pertunjukan kekebalan terhadap senjata tajam dengan cara menusukkan benda tajam tersebut pada tubuhnya. Tarian ini diawali dengan nyanyian atau pembacaan Alquran atau selawat nabi. Permainan ini berkembang di bekas-bekas pusat kerajaan seperti Banten, Minangkabau, Aceh. Adapun seudati adalah seni tradisional rakyat Aceh yang berupa tarian atau nyanyian. Pertunjukan dilakukan oleh sembilan atau sepuluh orang pemuda dengan memukul-mukulkan telapak tangan ke bagian dada. Dalam seudati pemain juga menyanyikan lagu-lagu tertentu yang isinya berupa selawat pujian kepada nabi. Di unduh dari
RESENSI KITAB KARTU TANDA BUKU JUDUL al-Ibanah an Ushul ad-Diyanah PENGARANG al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari PENERBIT Maktabah Daar al-Bayan TEMPAT / TAHUN Beirut, Lebanon 1999 M / 1420 H CETAKAN Cetakan ke IV ISBN – JUMLAH HALAMAN 192 halaman PERESENSI Taofiqur Rahman PROLOG KITAB Buku ini ditulis dan dipersembahkan oleh al-Imam Abu Hasan Al Asy’ari ketika aqidah ummat muslim di zamannya perlu di luruskan, dan kembali pada sumbernya yang jernih, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. dalam kitab ini beliau menjelaskan tentang Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.[1] BIOGRAFI PENGARANG Beliau adalah al-Imam Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abu Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari Abdullah bin Qais bin Hadhar. Abu Musa Al-Asy’ari adalah salah seorang sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam yang masyhur. Beliau -Abul Hasan Al-Asy’ari- Rahimahullah dilahirkan pada tahun 260 H di Bashrah, Irak. Beliau Rahimahullah dikenal dengan kecerdasannya yang luar biasa dan ketajaman pemahamannya. Demikian juga, beliau dikenal dengan qana’ah dan kezuhudannya. Guru-gurunya Beliau Rahimahullah mengambil ilmu kalam dari ayah tirinya, Abu Ali al-Jubai, seorang imam kelompok Mu’tazilah. Ketika beliau keluar dari pemikiran Mu’tazilah, beliau Rahimahullah memasuki kota Baghdad dan mengambil hadits dari muhaddits Baghdad Zakariya bin Yahya as-Saji. Demikian juga, beliau belajar kepada Abul Khalifah al-Jumahi, Sahl bin Nuh, Muhammad bin Ya’qub al-Muqri, Abdurrahman bin Khalaf al-Bashri, dan para ulama thabaqah mereka. Taubatnya dari Aqidah Mu’tazilah Al-Hafizh Ibnu Asakir berkata di dalam kitabnya Tabyin Kadzibil Muftari fima Nusiba ila Abil Hasan al-Asy’ari, “Abu Bakr Ismail bin Abu Muhammad al-Qairawani berkata, “Sesungguhnya Abul Hasan al-Asy’ari awalnya mengikuti pemikiran Mu’tazilah selama 40 tahun dan jadilah beliau seorang imam mereka. Suatu saat beliau menyepi dari manusia selama 15 hari, sesudah itu beliau kembali ke Bashrah dan shalat di masjid Jami’ Bashrah. Seusai shalat Jum’at beliau naik ke mimbar seraya mengatakan “Wahai manusia, sesungguhnya aku menghilang dari kalian pada hari-hari yang lalu karena aku melihat suatu permasalahan yang dalil-dalilnya sama-sama kuat sehingga tidak bisa aku tentukan mana yang haq dan mana yang batil, maka aku memohon petunjuk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga Allah memberikan petunjuk kepadaku yang aku tuliskan dalam kitab- kitabku ini, aku telah melepaskan diriku dari semua yang sebelumnya aku yakini, sebagaimana aku lepaskan bajuku ini.” Beliau pun melepas baju beliau dan beliau serahkan kitab-kitab tersebut kepada manusia. Ketika ahlul hadits dan fiqh membaca kitab-kitab tersebut mereka mengambil apa yang ada di dalamnya dan mereka mengakui kedudukan yang agung dari Abul Hasan al-Asy’ari dan menjadikannya sebagai imam.” Karangan-karangan bukunya Beliau menulis kurang lebih 90 kitab dalam berbagai bidang keilmuan. Beberapa kitab yang terkenal adalah al-Luma al-Ibanah an Ushul ad-Diniyah Maqalat al-Islamiyyin URGENSI KITAB Kitab al-Ibanah ’an Ushul Diyanah adalah sebuah kitab monumental dan sangat berharga buah karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari. Dalam kitab tersebut, beliau menegaskan pokok-pokok aqidah yang sesuai dengan aqidah salaf shalih kepada paham-paham yang menyimpang darinya termasuk paham Mu’tazilah dan juga kepada paham Kullabiyyah yang banyak dianut oleh orang-orang yang menisbahkan diri kepada beliau pada zaman sekarang. Oleh karenanya, kemunculan buku terpenting Imam Abul Hasan ini menjadi ajang pro dan kontra. Buku ini tidak menyenangkan sebagian kalangan yang merasa tertampar dengan isinya karena banyak bertentangan dengan paham Asya’irah belakangan, terutama dalam masalah sifat-sifat Allah bersifat khabariyyah dan ketinggian Allah. Oleh karena itu, mereka meragukan dan menebarkan kedustaan terhadap kitab ini, seperti ucapan mereka bahwa buku ini bukanlah karya Abul Hasan al-Asy’ari, buku ini sudah banyak mengalami manipulasi, buku ini dikarang karena takut oleh tekanan Hanabilah, buku ini dikarang di awal periode kehidupan beliau, dan sebagainya. METODE PENULISAN KITAB Di dalam kitab al-Ibanah terdapat enam belas bab yang membahas tentang pokok-pokok aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan di sertai dalil dari ayat-ayat Al-Qur’an serta contoh tanya jawab dari persoalan-persoalan tersebut. Dalam kitab ini imam Abu Hasan al-Asy’ari menetapkan sifat-sifat Allah khabariyyah seperti ketinggian Allah dan bagaimana konsekuennya beliau terhadap wahyu al-Qur’an dan hadits serta menolak perubahan makna. Dalam kitab ini juga, beliau tidak membahas masalah-masalah filsafat yang dia sebutkan dalam kitab al-Luma’. CAKUPAN TEMA PEMBAHASAN Isi kitab ini adalah berkaitan dengan masalah yang sangat urgen bagi setiap muslim dalam kehidupannya. Bagaimana tidak, buku ini berkaitan dengan masalah aqidah dan pokok-pokok agama sesuai dengan metodologi Ahli Sunnah wal Jama’ah seperti masalah ruyah melihat Allah di akhirat kelak, ketinggian Alslah di atas ’arsy-Nya, dan sebagainya KESIMPULAN Kitab al-Ibanah merupakan karya monumental Imam Abul Hasan al-Asy’ari di periode akhirnya yang sesuai dengan manhaj salaf shalih. Buku ini meluruskan klaim sebagian orang belakangan yang menisbahkan diri kepada beliau tetapi tidak mengikuti aqidah beliau yang sesuai dengan manhaj salaf. Kitab ini merupakan periode akhir dari penulis yang mengalami perpindahan dari ideologi Mu’tazilah dan Kullabiyyah menuju manhaj salaf shalih. Oleh karenanya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Barangsiapa dari kalangan Asy’ariyyah yang berpendapat sesuai dengan kitab al-Ibanah yang dikarang oleh al-Asy’ari di akhir umurnya dan tidak menampakkan pertentangan dalam hal itu, maka dia termasuk Ahlus Sunnah. Wallahu a’lam bisshawab. Corected By iRist [1] Abu Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah an Ushul ad-Diyanah, Beirut, Maktbah Daar al-Bayan, 1999
Psychoactive plants have played an important role in medicine, religion, ritual life, and recreation since ancient times. In shamanic religions, which appear to have dominated throughout much of human pre-history, trance induced by psychoactive plants and other techniques permits direct contact with the divine. For this reason, plant hallucinogens and other psychoactive botanicals have been considered by cultures throughout history as "plants of the gods" sacred substances that bring knowledge, power, healing, and mystical insight, but that must be used with utmost respect and caution. With the spread of Christianity, and especially since the Inquisition and Conquest of the New World, the religious use of psychoactive plants has been severely and sometimes violently suppressed. Western scientific and popular interest in psychoactive plants enjoyed a resurgence in the mid-twentieth century, though the excesses of the 1960s "psychedelic era" provoked a backlash, exacerbating existing biases within the scientific, medical, and law-enforcement establishments. Psychoactive compounds produce their peculiar effects on consciousness by mimicking the chemical structures of neurotransmitters or otherwise altering the transmission of nerve impulses. Over the past two hundred years, chemical and physiological studies of natural psychoactive compounds and their synthetic derivatives have resulted in major contributions to medicine and neuroscience. This chapter presents an overview of twenty-two important psychoactive plants used in religious or ritual settings throughout the world, with supplementary information on ten additional species. The cultural and historical background for each plant is presented alongside pertinent botanical, chemical, and pharmacological information. An appendix provides a summary of the names, traditional and biomedical uses, and active components of plants discussed in the text. A general introduction and concluding discussion help set the topic of psychoactive plant use within the intertwined historical, social, philosophical, scientific, and contemporary legal contexts.
Ditulis oleh dhanny pada Min, 02/26/2017 - 0855 924 kali dibaca Penerbit DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN USANA BALI Naskah Usana Bali yang khusus menceritakan raja Mayadanawa merupakan cerita rakyat yang direkonstruksi berdasarkan kenyataan yang ada dan diceritakan secara kronologis, sehingga cerita ini berbau sejarah dan akhirnya diayakini oleh masyarakat Bali sehingga suatu kejadian yang benar terjadi. Kehidupan darma tidak akan dinamis tanpa adarma, karena untuk membuktikan bahwa darma itu ada, maka harus ada adarma sebagai alat pengukur dan dalam hal ini diwakili oleh raja Mayadanawa. Untuk meyakinkan masyarakat bahwa adarma tidak mungkin dapat mengalahkan darma, maka perlu adanya pembuktian. Bentuk pembuktian dalam naskah Usana Bali adalah melalui perayaan hari Galungan. Hari raya Galungan juga berfungsi untuk membangkitkan sikap yang sudah payah ke dalam demensi baru sesuai dengan perkembangan zaman.
kitab usana bali berisi